News

Maestro Srihadi Soedarsonono di usia 88 tahun, buka Restoran Shrida the taste of Ubud, tempat berkumpulnya para Seniman

Maestro Srihadi Soedarsonono di usia 88 tahun, buka Restoran Shrida the taste of Ubud, tempat berkumpulnya para Seniman

BALI,  INDEX – Salah satu pelukis maestro kebanggaan Indonesia, Srihadi Soedarsono yang lahir disebuah kota Budaya Surakarta, pada 4 Desember 1931, beliau adalah diantara pelukis terkenal Indonesia yang karyanya banyak diburu kolektor baik dalam dan luar negeri.

Maestro seni lukis Srihadi Soedarsono  untuk melakukan sesuatu bagi masyarakat agaknya tak pernah pudar. Selain terus berkarya dalam seni, kali ini ia membuka restoran Shrida the taste of Ubud yang di dalamnya melalui program “Art.Culture.Culinary” menjadi tempat berkumpul para seniman dan profesi lainnya agar bisa saling memberi inspirasi untuk menghasilkan sesuatu yang lebih produktif dan kreatif.

Di balik Shrida yang merupakan singkatan dari Srihadi-Farida, memberi warna baru dalam dunia kulineer di kampung seni Ubud.

Srihadi Soedarsono dan Siti Farida Nawawi yang kini usianya sudah 88 tahun dan farida 77 tahun memang sudah lama tinggal di Ubud dan merasa sebagai bagian dari masyarakat Ubud, sehingga harus memberi andil dalam perkembangan pariwisata setempat.

Maestro Srihadi rencananya akan mengadakan pameran tunggal di Galeri Nasional Jakarta pada 10 Maret 2020 mendatang.

“Saya inginnya tahun ini. Tetapi karena jadwal Galeri Nasional padat, saya dapat giliran tahun depan,” kata Srihadi Soedarsono yang merupakan mantan wartawan lukis kelahiran Surakarta, 4 Desember 1931, saat ditemui di Restoran Shrida Taste of Ubud, Gianyar, Minggu (30/6/2019).

Dalam pameran tersebut, pria yang kini berusia 88 tahun ini akan memamerkan sebanyak 40 sampai dengan 50 karyanya dengan ukuran terbesar mencapai 6 X 3 meter.

Menurut Srihadi, karya seni yang merupakan hasil dari estetika, harus dicampur dengan kebenaran versi sendiri. Karena harus ada hubungan transendental antara diri dengan kejiwaan, dalam menghasilkan sebuah karya.

Berdasarkan pandangannya tentang seni yang seperti itulah, maka Srihadi akan terus berkarya, meneruskan perjalanannnya sampai nanti.

“Sebagai pelukis tidak ada pensiunannya,” ujarnya.

Kurator yang juga isteri Srihadi Siti Farida Nawawi mengatakan, setiap karya yang dihasilkan dari sang suami, tidak bisa diukur dengan waktu, dalam berkarya selalu tergantung mood, feeling dan soul.Untuk pameran tunggal nanti, baru 35 lukisan yang telah disiapkan.

“Jadi yang sangat penting itu adalah jiwa itu keluar. Jadi sebagai seorang yang memiliki kultur tinggi, itu akan merasakan mendalamnya bahwa seluruh alam semesta itu keluar. Itu yang membuat sebuah lukisan itu bisa fenomenal,” imbuhnya.

Putra Maestro Srihadi ananda Indra menambahkan,  bahwa ayahandanya bukan seperti kebanyakan seniman lukis lainnya. Akan tetapi sangat disiplin terhadap waktu.

“Kalau bapak itu seperti orang kantoran. Masuk jam 09.00 WIB ke studio untuk melukis dan keluar sore hari. Bahkan beliau kadang-kadang lupa makan,” kata Indra

“Begitulah keseharian beliau yang berlangsung bertahun-tahun hingga saat ini. Jadi saya sedikit khawatir dengan kebiasaan itu. Katanya tidak tenang kalau tidak melukis,” tambahnya.

Karya-karya lukisan Srihadi Soedarsono merupakan saksi perjalanan sejarah yang digoreskan sejak jaman kemerdekaan hingga jaman modern.

Tema tentang perjuangan, kehidupan, alam, dan cinta terkumpul dalam karya-karya lukisannya, baik dalam sketsa maupun dalam karya lukisan dengan berbagai media.

Untuk diketahui, wartawan lukis adalah wartawan yang mengabadikan momen dengan lukisan. Di mana pada jaman dulu, kamera itu sangat sulit dan menjadi barang mahal.

Untuk mengganti dan merekam sebuah momen, maka ditugaskanlah wartawan lukis yang memotret sebuah peristiwa yang kemudian dituangkan ke dalam sebuah lukisan ataupun sketsa peristiwa.

Saat itu, Srihadi Soedarsono selalu meminta tanda tangan objek yang dilukis ke dalam karyanya yang kemudian ia setorkan kepada kantornya untuk dicetak dan disebarluaskan.

“Kalau diceritakan sejak kapan saya melukis, ya saya sendiri tidak tahu. Tapi saat jaman Jepang tahun 1941 saya diketahui oleh kakek saya suka corat-coret. Jadi beliau mendukung dan membelikan saya peralatan untuk menggambar,” kata Srihadi Soedarsono.

Dengan memanfatkan lahan studioanya, Srihadi  memperkenalakan sentuhan baru di dunia kuliner, di mana restoran yang dihias beberapa mahakarya serta buku buku tentang sang maesero ini, mencoba mengangkat menu lokal dalam kemasan modern.

Leave a Comment

Your email address will not be published.

Enter your keyword